09 Oktober 1971
KETIKA diumumkan bahwa Radio Republik Indonesia (RRI) menjelenggarakan Kontes Pop Singer tentu tidak banjak pendengarnja jang membajangkan bahwa didalam kontes itu akan ada seorang budjangan jang berdiri dimuka mike dan kemudian tarik otot seperti Sam Saimun didepan Orkes Kerontjong. Apalagi kalau orang jang membajangkan bagaimana bentuk kontes itu telah dipengaruhi atjara Beat Club jang biasa muntjul di TVRI –asosiasi pertama mereka pasti dentum djreng-djreng dan muntjulnja singer (penjanji) jang brewok, gondrong, ataupun jang terlalu nekad pakai rok mini. Semuanja itu akan benar-benar keliru seperti halnja reporter TEMPO, Leopold Gan ketika memasuki Gedung Pola dalam malam final kontes tersebut. “Ulang tahun RRI kali ini memang lain dari jang lain”, kata Gan, tapi tentunja tidak berarti lebih baik. Memang dalam kontes jang diselenggarakan berkenaan dengan perajaan HUT RRI, telah ikut 86 biduan dan 31 biduanita dimana 10 pria dan 8 penjanji putri masuk babak final. Tapi tidak seorangpun diantara mereka terdapat penjanji pop jang sudah terkenal. Bahkan Titiek Puspa, jang kalau tidak keliru belum sekalipun pernah ikut kontes-kontes matjam itu, dihari tersebut nongol sebagai djuri. Atawa. Djadi inilah kontes jang barangkali baru pertama kali ada di Djakarta dimana band Arsianto dibawah pimpinan Bambang Karsono ditemani 12 penggesek biola RRI, sama duduk dikursi. Suasana: tenang. Ibarat: Pemilihan Bintang Radio djenis Hiburan atawa Kerontjong. Djuri: tak nampak, mungkin dibalkon. Mereka tidak banjak, tjuma Titiek Puspa jang kalau menjanji pop tidak bisa bersikap seperti patung, kemudian Sam Saimun dan Benny Pablo pemain klarinet dan komponis. Ketiga djuri itu menurut Iskandar bapaknja Diah “tjukup bisa dipertjaja”. Para peserta kelihatannja diwadjibkan mengadu suara sadja. Ini logis karena RRI jang menjelenggarakan dan bukan TVRI. Konon demikian konsep Abdul Hamid, Direktur RRI jang konon pula berhasrat mentjiptakan standar pop ala RRI, seperti jang ditangkap reporter Martin Aleida dalam konfrensi persnja. Maka lagu wadjib jang ditetapkan bebas dari irama rock apa lagi soal Tjiptaan Janwar, Iskandar, Nus K seperti Permintaan Terachir, Disisimu Kuingiz Slalu, Tak Mau Diraju Lagi atau lagu-lagu seperti Tinggi Gunung Seribu Djandji, Bunga Flambojan dan lain sebagainja jang disodorkan pada penjanji jasg ikut serta. Jul Chaidir dari RRI Pusat melihat daftar lagu wadjib tersebut sebagai “termasuk berat”, dimana untuk menjanjikannja diminta kemahiran sang penjanji. Tidak seluruhnja persis tanggapan Jul Chaidir karena Ida Djamain, salah seorang peserta mengatakan bahwa baginja tidak terlalu berat membawakan lagu-lagu tersebut. Ini mungkin ia njatakan karena interview berlangsung setelah ia muntjul sebagai pemenang. Tapi alasannja lutu djuga, sebab katanja: “Lagu-lagu itu adalash lagu-lagu hiburan biasa”. Ida tidak menjatakannja sebagai lagu pop melainkan hiburan. Tapi hiburan maupun pop jang penting ngeeek, biola harus digesek ketika pembawa abara membuka malam final Senin malam jang lalu. Chief Hostess. Adalah peraturan didalam final kontes tersebut jang berlangsung digedung dimana dibelakangnja terdapat djalan kereta api. Peraturan itu berbunji kira-kira begini: Kalau ada kereta liwat, penjanji harus berhenti dan mengulangi dari pertama. Sekali hampir peraturan ini berlaku ketika Rachmad Hs. sedot suara dibait terachir dari sjair lagu jang dibawakannja malam itu. Dumdum-dum derum roda kereta bergedjlokan dengan relnja makin lama makin dekat dan makin menderu. Disaat itu, 12 penggesek biola persis mentjabut tongkat geseknja dan pertundjukan bubar a rang tertawa serempak bukan karena sjair si Rachmad kotjak, tapi karenakalau kereta tidak terlambat masuk Djakarta, pasti Rachmad harus mengulangi lagunja. Ini gedung Pola akustiknja seperti lapangan bola. Wallahu’alam apa sebabnja RRI pilih tempat jang kurang tepat sementara djumlah undangan terlalu sedikit untuk mengisi ruang pameran gedung Pola jang terkenal akbar itu. Ada diterangkan karena DF Hall jang dipesan disodok oleh team bola sodok jang malam itu mengambil tempat tersebut untuk suatu pertandingan, tapi menggantinja dengan gedung Pola terusterang kurang bidjaksana. Tidak perduli dimana pokoknja Ida Djamain dan remadja lainnja harus tarik suara. Maka madjulah Judhy dengan djas hitam, kemedja putih tjelana hitam, persis chief hostess Flamingo. Rachmad Hs-pun dengan setelan jang sama tampil bagai bar-tender Galaxy. Kedua tangan saling disalamkan, mungkin batuk sedikit, lantas angkat suara. “Bunga Flamboyan ….”, dan seterusnja sampai refren. Disini ia kelurkan sapu-tangan, gosok keringat, lantas gendjot lagi: Bunga Flambojann …. — geerrr, penonton tertawa. Bagaimana gerak penjanji-penjanji itu. Djangan berilusi dengan Emilia Contessa jang sexy, karena seperti kata penjanji-penjanji itu sendiri, hanja gojang tangan jang diperkenankan. Demikian pula halnja dengan adik Sjenny Djamain jang bernama Ida Djamain, tukang duet di TV jang terkenal itu, malam itu muntjul dengan gaun pandjang seperti tante Menteng. Dari diapun orang tak lebih mendapat hadiah lagu biasa tak ubahnja seperti lagu jang RRI perdengarkan setiap hari. Barangkali ada jang bertanja, mengapa tidak sekalian sadja penjanji itu ditutup dalam studio dan djuri serta undangan menilainja dari ruangan jang lain? Hanja Abdul Hamid jang boleh kasih djawaban tentunja. Kendor. Begitulah saudara-saudara pembatja ditanah air laporan kami dari studio darurat RRI, gedung Pola Djakarta. Adapun pemenang kontes hiburan singer malam itu adalah Ida Djamain, Linda Elsa dan ketiga, Dewi Sultan. Sedang rombongan pria dimenangkan oleh Rachmad Hs., Chris Herman, Muhammad Rimfani. Perlu anda ketahui bahwa Elsa jang kali ini djadi djuara kedua berusia 12,5 tahun, tapi seperti diakuinja sendiri pada TEMPO: “Tubuh saja memang gede”. Dan tubuh jang gede itulahbarangkali membuat Linda Elsa Valentine Nainggolan dojan lagu-lagu jang sentimentil. Adik Martha Nainggolan, djuara bintang radio 1970 djenis seriosa itu, kata Martha punja suara mezzo sopran. 3arangkali Elsa, maupun gadis-gadis lainnja jang ikut dalam kontes RRI tersebut tidak tahu termasuk djenis suara apa suara mereka dan apa pula itu artinja mezzo sopran. Mungkin panitia kontes pernah mendjelaskan, setidaknja Oom Sam Saimun — tapi jang penting, kalau dalam pop jang tidak termasuk djenis kempos”, penjanji tidak begitu perlu tahu sopran, bariton and so on. Seperti halnja ketika Diah Iskandar mentjolot kepentas untuk membawakan lagu pop Sekedar Bertanja, Pemain band: siaap, berdiri semua. Fiolis: munduuurr. Dang – duut – dang – duut, mike ditjopot dari gagangnja. Ini disambut penonton jang agaknja punja pengertian lain tentang pop. Demikian pula ketika Henny Purwonegoro mengetok djalan darah penonton jang kendor akibat pop kempos dengan Knoc – Three Times. Huiih. Barangkali Titiek Puspa kalau berkesempatan menjaksikan Henny manggut-manggut sambil menggenggam mike tersebut, akan ikut pula mendetak-detakkan kakinja dilantai — seperti biasa. Tanpa Diah dan Henny Purwonegoro, barangkali sedjumlah undangan jang tertidur oleh imbauan sendja Kontes Hiburan Singer jang membawakan Tinggi Gunung Seribu Djandji, tak akan tergugah. Demikian komentar. Selamat malam.
Disadur dari Majalah Tempo di url berikut : http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/1971/10/09/HB/mbm.19711009.HB58145.id.html#